
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga saham-saham di pasar modal domestik melonjak hari ini, Kamis (5/11/2020), dan membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpesta di zona hijau. Tak tanggung-tanggung indeks saham acuan bursa nasional itu terbang 3% lebih dalam sehari.
Untuk pertama kalinya pekan ini, asing akhirnya mencatatkan net buy atau beli bersih sebesar Rp 929,31 miliar di pasar reguler, sementara di pasar nego dan tunai terjadi jual bersih (net sell) Rp 241,50 miliar.
Data BEI menunjukkan, nilai transaksi mencapai Rp 9,64 triliun dengan 320 saham menguat, 140 saham melorot, dan sisanya 150 saham stagnan.
Sentimen penggerak pasar hari ini datang dari dalam dan luar negeri. Dari luar negeri pemilihan presiden AS masih menjadi sorotan pelaku pasar global termasuk domestik.
Sampai saat ini Joe Biden dari Partai Demokrat masih unggul dengan perolehan 72 juta suara populer dan 264 suara elektoral meninggalkan rivalnya Donald Trump dari Partai Republik dan petahana dengan 68,6 juta suara voting populer dan 214 suara elektoral.
Menurut para analis, kemenangan Joe Biden akan menguntungkan pasar negara berkembang (emerging market). Semua gara-gara dolar AS. Ketika Biden menang, posisi dolar AS kemungkinan akan melemah.
Secara historis, kekuatan dolar AS akan sangat berpengaruh terhadap valuasi aset-aset keuangan di negara-negara emerging market. Ketika greenback melemah, investor biasanya menarik uang dari AS dan memasukkannya ke negara emerging market dan mendongkrak harga aset finansialnya.
Melansir Financial Times, Gary Greenberg selaku kepala emerging markets di Federated Hermes mengatakan gelombang biru atau fenomena ketika jajaran eksekutif, dewan perwakilan rakyat (DPR) dan Senat akan menghasilkan paket stimulus federal yang lebih besar daripada yang akan diberikan oleh kepresidenan Trump.
Ini tidak hanya akan menyebabkan dolar lebih lemah, katanya, tetapi juga pertumbuhan AS yang lebih kuat. Ini akan menjadi nilai tambah lainnya bagi EM, terutama eksportir logam dasar seperti Peru, Afrika Selatan, dan Indonesia serta ekonomi siklis seperti Chili, Korea Selatan, dan Meksiko, lanjut Greenberg.
"Dengan gelombang biru kita akan mulai melihat kepercayaan global mulai terbangun. Kebijakan AS akan menjadi lebih dapat diprediksi dan rasional," tambah Greenberg.
Mr Robertson berpandangan bahwa dolar melemah yang diinduksi Biden akan memungkinkan bank sentral negara berkembang untuk mempertahankan suku bunga lebih rendah, membantu pertumbuhan.
Sementara itu, kebijakan perdagangan yang lebih dapat diprediksi akan membuat perusahaan lebih percaya diri untuk berinvestasi di negara berkembang.
Dari dalam negeri hari ini pengumuman angka keramat yaitu pertumbuhan ekonomi nasional dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Dalam konferensi persnya pada 11.00 WIB, BPS mengumumkan pertumbuhan PDB nasional kuartal ketiga tumbuh 5,05% (qoq) dan minus 3,49% (yoy).
Kontraksi dua kuartal berturut-turut berdasarkan periode tahunan membuat RI sah menyandang status resesi. Meski resesi sebenarnya ada perbaikan ekonomi yang tercatat sehingga menjadi modal yang baik untuk mengarungi perekonomian kuartal keempat yang sudah berjalan sekarang ini.
Mengacu pada data BPS, seluruh sektor usaha Tanah Air mencatatkan pertumbuhan secara kuartalan. Bahkan untuk sektor yang kontraksinya dalam seperti transportasi dan akomodasi makan dan minum tumbuh dobel digit di atas 10% (qoq).
Konsumsi masyarakat meski masih terkontraksi dibanding tahun lalu juga mengalami perbaikan di kuartal ketiga kemarin. Di sisi lain pemerintah juga agresif untuk membelanjakan anggarannya.
Stimulus ratusan triliun yang digelontorkan oleh pemerintah bersama pelonggaran PSBB yang dilakukan mulai terlihat mengerek naik sentimen konsumen sehingga roda perekonomian mengalami perbaikan.
Pasar yang cenderung forward looking pun mempertimbangkan hal tersebut dan memantik aksi beli besar-besaran terutama oleh asing di aset-aset ekuitas nasional seperti yang terlihat hari ini.
Hanya saja masih ada risiko besar yang dihadapi terutama dari pemilu AS juga belum bisa dikatakan selesai. Masih ada berbagai permasalahan yang menimbulkan risiko ketidakpastian seperti adanya wacana Trump yang akan menggugat hasil pemilu hingga meminta penghitungan distop sementara.
Penghitungan suara diperkirakan membutuhkan waktu berhari-hari bahkan bisa sampai memakan waktu mingguan mengingat peliknya permasalahan dan adanya pandemi Covid-19 yang membuat skema teknisnya berubah.
Tidak semua masyarakat AS yang menyalurkan suaranya datang langsung ke lokasi pemungutan suara (TPS), melainkan ada juga yang mengirimkan lewat pos.
Di sisi lain Eropa dan belahan dunia lainnya juga sedang menghadapi gelombang kedua Covid-19. Beberapa negara di kawasan Benua Biru seperti Prancis, Spanyol, Jerman Inggris hingga Italia kembali menerapkan pembatasan ketat untuk mencegah infeksi Covid-19 makin meluas.
Oleh karena itu peningkatan IHSG yang signifikan hari ini cenderung lebih mencerminkan sentimen sesaat dan volatilitas yang tinggi. Toh kemarin saat pasar modal Asia kompak menghijau, IHSG hancur sendirian dengan koreksi 1% lebih.
Ya, secara sederhana, IHSG balas dendam hari ini. IHSG juga kompak menghijau dengan pasar keuangan Asia lainnya. Hanya saja aliran modal asing yang masuk hari ini tetap bisa saja keluar setiap waktu. Semua kembali ke sentimen yang mempengaruhi.
TIM RISET CNBC INDONESIA
[Gambas:Video CNBC]
(twg/twg)
https://news.google.com/__i/rss/rd/articles/CBMid2h0dHBzOi8vd3d3LmNuYmNpbmRvbmVzaWEuY29tL21hcmtldC8yMDIwMTEwNTE1NDgwOC0xNy0xOTk2MDMvaWhzZy10ZXJiYW5nLTMtYXNpbmctbWFzdWstcnA5MjktbS10ZXJueWF0YS1pbmktcGVtaWN1bnlh0gEA?oc=5
2020-11-05 10:45:42Z
52782461987449
Bagikan Berita Ini
0 Response to "IHSG Terbang 3% & Asing Masuk Rp929 M, Ternyata Ini Pemicunya - CNBC Indonesia"
Post a Comment