:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1817917/original/058473800_1514865745-20180102-IHSG-FF3.jpg)
Gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan. Rilis neraca perdagangan Juli 2018 kembali defisit USD 2,03 miliar menekan laju IHSG.
Pada penutupan perdagangan saha sesi pertama, IHSG merosot 1,38 persen atau 79,50 poin ke posisi 5.690,37. Indeks saham LQ45 susut 1,77 persen ke posisi 887,09. Seluruh indeks saham acuan kompak melemah.
Sebanyak 237 saham melemah sehingga menekan IHSG. 121 saham diam di tempat. 98 saham menguat. Transaksi perdagangan saham cukup ramai. Total frekuensi perdagangan saham 231.559 kali dengan volume perdagangan 4,7 miliar saham.
Nilai transaksi harian saham Rp 4,1 triliun. Investor asing jual saham Rp 122,09 miliar di pasar regular. Posisi dolar Amerika Serikat (AS) berada di kisaran Rp 14.621. Pada sesi pertama, IHSG sempat berada di posisi 5.819,64 dan terendah 5.689,93.
Dari 10 sektor saham, hanya sektor saham pertanian yang naik 0,78 persen. Sektor saham keuangan merosot 1,79 persen, dan catatkan penurunan terbesar. Disusul sektor saham industri dasar tergelincir 1,74 persen dan sektor saham tambang turun 1,49 persen.
Di tengah tekanan IHSG, ada sejumlah saham yang mampu menguat. Saham RELI naik 17,78 persen ke posisi 318 per aham, saham MTSM mendaki 13,85 persen ke posisi 148 per saham, dan saham ASJT melonjak 8,62 persen ke posisi 378 per saham.
Sedangkan saham-saham yang tertekan antara lain saham SSTM turun 24,36 persen ke posisi 416 per saham, saham YPAS merosot 17,98 persen ke posisi 730 per saham, dan saham ACES tergelincir 9,12 persen ke posisi 1.245 per saham.
Bursa Asia pun kompak melemah. Indeks saham Hong Kong Hang Seng turun 1,58 persen, indeks saham Jepang Nikkei melemah 0,88 persen, indeks saham Thailand susut 0,59 persen, indeks saham Shanghai melemah 1,53 persen.
Selain itu, indeks saham Singapura turun 0,31 persen dan indeks saham Taiwan tergelincir 0,68 persen.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan defisit perdagangan Juli 2018 mencapai USD 2,03 miliar. Laporan Ashmore menyebutkan defisit perdagangan itu tertinggi sejak 2013.
Meski data perdagangan ekspor menguat 19,33 persen tapi Indonesia masih alami defisit. Indonesia alami impor naik signifikan sebesar 31,56 persen. Pertumbuhan impor didorong dari kenaikan konsumsi. “Kami melihat impor barang konsumsi tumbuh 60,7 persen year on year sedangkan barang modal hanya tumbuh 24,8 persen,” tulis laporan Ashmore.
Ashmore menyebutkan, defisit perdagangan tersebut mengejutkan pasar dan berdampak negatif. Pelaku pasar perkirakan defisit hanya USD 625 juta. Sementara itu, rupiah bergerak di kisaran 14.625 per dolar Amerika Serikat dan imbal hasil obligasi bertenor 10 tahun 8,02 persen. IHSG turun didorong sektor saham keuangan dan barang konsumsi.
Saksikan video pilihan di bawah ini:
Pasar saham Indonesia mencatatkan kinerja gemilang sepanjang 2017. Tercatat pertumbuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencapai 19,99 persen. IHSG pun cetak rekor tertinggi di 6.355. Sejumlah sektor saham membukukan keuntungan besar antara lain ...
Bagikan Berita Ini
0 Response to "Suku Bunga Acuan BI Naik, IHSG Menguat Tipis"
Post a Comment