:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2387668/original/071500500_1539933934-20181019-Disinfektan-Palu-4.jpg)
Sebelumnya, bencana gempa bumi, tsunami, dan likuefaksi yang sempat melandaSulawesi Tengah beberapa waktu lalu mengakibatkan permukaan tanah di sejumlah wilayah tersebut turun.
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat lantas berinisiatif membangun tanggul sepanjang 7 kilometer (km) untuk melindungi daratan dari luapan air laut.
Kepala Satgas Penanggulangan Bencana Kementerian PUPR Arie Setiadi Moerwanto menyatakan, salah satu daerah yang mengalami penurunan permukaan tanah adalah Kelurahan Talise, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu.
"Sebagai contoh di daerah Talise, di sini tadinya tidak pernah kebanjiran, tapi sekarang di sini banjir. Untuk itu, kita buat tanggul pantai," ungkap dia di Jakarta, Senin, 8 April 2019.
Fungsi tanggul ini bukan untuk menahan tsunami, melainkan hanya untuk mencegah ketinggian luapan air laut sehingga tidak masuk ke daratan.
"Jadi kita buat tanggulnya di sini lebih kurang 3 meter, bukan buat tsunami. Muka air laut tertingginya di sana sekitar 2,66 meter. Setelah ini dibangun di sini tidak kebanjiran," ucap dia.
Dia pun mengatakan, inisiasi proyek tanggul laut tersebut saat ini telah rampung tahap desainnya, dan tengah memasuki tahap lelang kontraktor. Bila tanggul ini telah terbangun, maka proses konstruksi bangunan lain di sampingnya bisa dimulai kembali.
"Kalau sekarang belum bisa, masih kumuh. Soalnya semua kotoran dari laut semua masuk ke sini," ucap dia.
https://www.liputan6.com/bisnis/read/3936818/kementerian-pupr-usul-zona-rawan-bencana-di-palu-jadi-pusat-studi-likuifaksiBagikan Berita Ini
0 Response to "Kementerian PUPR Usul Zona Rawan Bencana di Palu Jadi Pusat Studi Likuifaksi"
Post a Comment