:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2222986/original/020734000_1526974688-1.jpg)
Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak naik 1 persen pada perdagangan Kamis setelah data menunjukkan adanya penurunan persediaan di Amerika Serikat (AS). Selain itu, pendorong kenaikan harga minyak karena investor berharap terjadi defisit pasokan minyak lebih cepat dari dugaan sebelumnya.
Mengutip Reuters, Jumat (14/12/2018), harga minyak mentah Brent naik 57 sen atau 1 persen ke level USD 60,72 per barel. Sedangkan harga minyak mentah AS naik 79 sen atau 1,5 persen ke level USD 51,94 per barel.
Kepakatan produksi antara negara yang tergabung dengan OPEC dan Rusia dan keputusan Kanada yang mengamanatkan pemangkasa produdksi dalam menciptakan defisit pasokan di pasar minyak. Defisit tersebut kemungkinan terjadi pada kuartal II tahun depan.
Menurut the International Energy Agency, jika masing-masing pihak memegang teguh janji kesepakatan tersebut, maka kemungkinan besar defisit pasokan tersebut bisa lebih cepat terjadi.
"Selama seminggu terakhir ini harga minyak telah berusaha untuk stabil dan saya masih berpikir itulah yang terjadi hari ini," kata Gene McGillian, kepala riset Tradition Energy, Stamford, Connecticut, AS.
"Jika terjadi pelemahan ke depan kemungkinan besar bukan karena masalah produksi tetapi lebih kepada pertumbuhan permintaan yang memburuk," lanjut dia.
Pasokan minyak global telah melebihi permintaan selama enam bulan terakhir, menggembungkan persediaan dan mendorong harga minyak mentah pada akhir November ke level terendah dalam lebih dari setahun.
Namun OPEC dan beberapa produsen besar lainnya termasuk Rusia mengatakan pekan lalu mereka sepakat untuk memangkas produksi 1,2 juta barel per hari.
https://www.liputan6.com/bisnis/read/3812529/harga-minyak-naik-karena-adanya-harapan-pengetatan-pasokan-globalBagikan Berita Ini
0 Response to "Harga Minyak Naik karena Adanya Harapan Pengetatan Pasokan Global"
Post a Comment