:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2233965/original/031537500_1527756134-20180531--Sri-Mulyani-Laporkan-Kerangka-Ekonomi-Tahun-2019-ke-Banggar-TALLO-3.jpg)
Sebelumnya, pertemuan G20 berhasil mencairkan suasana perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China. Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping mengambil keputusan gencatan senjata alias penundaan terhadap langkah-langkah kenaikan tarif selama 90 hari.
Menteri Keuangan Sri Mulyani menyambut baik hasil pertemuan tersebut meskipun tidak berarti ada penurunan tarif dagang kedua negara. Menurutnya, hal ini bisa menenangkan pasar yang sebelumnya banyak diguncang ketidakpastian.
"Tidak berarti apa yang sudah dilakukan tarifnya sudah turun. Paling tidak memberikan 3 bulan atau 90 hari bagi kedua belah pihak melihat aspek kesepakatan yang bisa menenangkan dari sisi awal tahun," ujar Menkeu Sri di Ritz Carlton, Jakarta, Senin 3 Desember 2018.
Sri Mulyani melanjutkan, pertemuan G20 juga membawa solusi bagi fluktuasi harga minyak dunia yang terus terjadi. Arab Saudi dan Rusia dalam kesempatan tersebut, bersedia melakukan diskusi mengenai ketersediaan pasokan minyak.
"Dari sisi minyak ada Rusia ada Saudi Arabia yang mereka bisa melakukan diskusi mengenai bagaimana mereka akan melihat respons dari pasar minyak dengan adanya supply kemudian proyeksi yang ada ke depan," ujar dia.
"Ini juga memunculkan suatu stabilitas dari sisi paling tidak kepastian supply-demand. Sehingga harganya tidak velotile naik secara drastis," sambungnya.
Hal-hal positif hasil pertemuan G20 ini, kata Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia tersebut, masih dibayangi oleh sejumlah resiko. Sebab, mekanisme tersebut belum dianggap sebagai suatu mekanisme yang reliable atau dapat diandalkan.
"Hal-hal positif ini masih dibayangi oleh hal-hal yang tidak pasti. Pertama, bahwa mekanisme tadi, multilateral, belum dianggap sebagai mekanisme yang reliable. Oleh karena itu, pesan dari G20 melakukan reformasi terhadap perdagangan dunia," tutur dia.
Saksikan video pilihan di bawah ini:
Menteri Keuangan Indoneisa Sri Mulyani dan Menteri Keuangan Australia Joshua Frydenberg menandatangani MoU pembaruan kerangka kerja untuk pertukaran kebijakan dan teknis antar dua pemerintah di Gedung Parlemen Australia, Canberra (5/11)
Bagikan Berita Ini
0 Response to "Sri Mulyani Lantik Andin Hadiyanto Jadi Staf Ahli Ekonomi dan Keuangan Internasional"
Post a Comment