:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2393359/original/093535900_1540548792-20181026-Ekspor-Ikan-3.jpg)
Sebelumnya, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengadakan diskusi Sumbang Pemikiran Kadin untuk Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional(RPJMM) 2020-2024 dalam rangka peningkatan industri kelautan dan perikanan. Diskusi membahas potensi industri kelautan dan perikanan di era Revolusi Industri 4.0.
"Kualitas SDM sektor kelautan dan perikanan perlu terus didorong, penerapan teknologi dan inovasi juga tentu sangat menentukan. Yang kami harapkan juga sekarang ini adalah peningkatan investasi serta dukungan regulasi yang pro bisnis," ucap Ketua Umum Kadin Bidang Kelautan dan Perikanan Yugi Prayanto, Rabu (14/11/2018) di Gedung Bappenas, Jakarta.
Menteri PPN/Bappenas Bambang Brodjonegoro turut menyebut bahwa kekayaan laut sudah menjadi bagian khas (inherent) di Indonesia yang bisa diekspor untuk membantu current account deficit. Keunggulan laut inilah yang perlu didorong agar didominasi Indonesia di pasar internasional.
"Industri kelautan dan perikanan itu seharusnya jadi input utama di industri makanan dan minuman. Saya membayangkan harusnya ke depan kalau kita melihat bahan makanan dari laut yang simpel, seperti fillet ikan, udang, kalengan, harusnya itu yang bisa menjadi dominasi Indonesia," ucapnya.
Kedepannya, ia ingin agar produksi perikanan Indonesia tak hanya sebatas menjadi penyelamat ekonomi negara, melainkan juga tertanam di alam bawah sadar konsumen global bahwa produk ikan yang mereka nikmati berasal dari Indonesia.
Ia mengambil contoh dari produk Coca-cola yang sudah terkenal. Menurut sang menteri orang-orang yang menikmati produk minuman cenderung hanya mengenal nama Coca-cola ketimbang merek lain.
"Sama seperti bagaimana Coca-cola akhirnya bisa membuat orang tidak tahu jenis minumannya apa. Orang tahunya Coca-cola, bahwa yang diminum Pepsi Cola, orang sudah enggak tahu lagi, karena dia (Coca-cola) brandingnya kuat," ucap sang menteri.
"Saya bayangkan harusnya indonesia punya brand yang kuat terutama untuk air kelapa dan produk-produk makanan kelautan dan perikanan. Jadi kalau ada udang kalengan, misalkan, itu kalau bisa yang menguasai adalah Indonesia," lanjutnya.
https://www.liputan6.com/bisnis/read/3961551/luhut-pengelolaan-laut-kurang-optimal-padahal-potensinya-capai-usd-13-miliarBagikan Berita Ini
0 Response to "Luhut: Pengelolaan Laut Kurang Optimal, Padahal Potensinya Capai USD 1,3 Miliar"
Post a Comment